Europol: Ransomware WannaCry Telan 200 Ribu Korban

Yuda Bangun Batari -

Monday, 15 May 2017 - 20 : 16 : 55

Jakarta, CNN Indonesia -- Badan kerja sama polisi Uni Eropa, Europol, menyebut serangan siber ransomware WannaCry telah memakan lebih dari 200 ribu korban setidaknya di 150 negara. Perangkat lunak jahat ini telah melumpuhkan ratusan ribu jaringan komputer instansi perusahaan maupun pemerintah secara global sejak Sabtu pekan lalu.

"Jumlah terakhir ada lebih dari 200 ribu korban di setidaknya 150 negara. Banyak dari para korban merupakan pelaku bisnis, termasuk perusahaan besar," tutur Kepala Badan Kepolisian Uni Eropa (Europol), Rob Wainwright, Minggu (14/5).

Ransomware WannaCry merupakan salah satu program jahat yang bisa mengunci data pada komputer terinfeksi dan jaringan terhubung hanya dalam hitungan menit.

Malware ini disebut sebagai salah satu yang paling canggih dan mulai terdeteksi menyebar secara global sejak Kamis (11/5). Sejauh ini, belum ada penangkal untuk mendekripsi file yang terjangkit.

Pelaku meminta pengguna membayar sebesar US$300 dolar dalam bentuk Bitcoin virtual sebagai tebusan agar dokumen yang disandera atau dikunci bisa dibuka kembali. 

Salah satu korban terparah adalah Inggris. Sedikitnya 45 fasilitas kesehatan nasional (NHS) terinfeksi, membuat sejumlah rumah sakit harus membatalkan operasi dan program perawatan pasien.

Sementara Di Indonesia, malware WannaCry ini mulai terdeteksi pada Jumat sore (12/5). Berdasarkan laporan yang diterima oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), sejauh ini program tersebut baru terdeteksi menyerang sistem komputer Rumah Sakit Harapan Kita dan Rumah Sakit Dharmais.